Langsung ke konten utama

The Story about "Kami"

Dahulu Kami adalah kelompok yang dihinakan karena tidak mempunyai permata seperti kelompok lain. Kami hanya mempunyai sebuah batu besar yang berwarna hitam dan sangat keras. Hinaan, cacian, makian, sindiran kelompok lain diterima oleh Kami. Tak satupun dari Kami yang membalas perbuatan itu. Kami hanya bisa memandangnya dan di dalam hati seluruh Kami bertekad untuk maju dan menunjukan pada penghina Kami bahwa Kami sama dengan kelompok lain. Kami hidup di alam yang sama dengan kelompok lain.kami makan. Kami minum. Kami adalah makhluk yang sama dengan kelompok lain.
Suatu hari salah satu dari Kami bermain-main dengan batu hitam nan keras itu. Salah satu dari Kami yang lain mengasahnya. Lama kelamaan batu hitam itu berubah warna menjadi bening mengkilat seperti permata. Lalu salah satu dari kelompok lain tidak sengaja melihat batu bening mengkilat itu dan lari menghampiri salah seorang dari Kami. Salah satu dari kelompok lain itu berkata bahwa batu bening mengkilat itu adalah batu permata yang amat sangat besar.semua dari Kami terlonjak kaget. Lalu muka para Kami berseri-seri. Batu hitam yang merupakan aib kami sebenarnya adalah senomgkah biji permata yang sangat indah.
Saat ini Kami adalah sama dengan kelompok lain. Tapi masih ada beberapa dari kelompok lain yang masih merasa bahwa Kami tidak pantas mendapatkan batu itu. Setidaknya Kami mulai melangkah maju.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Story About Us

Hanya sedikit jika dilihat. Cerita kita hanya berawal dari ikatan tahta yang tak terduga. Berjalan dengan gelimang tangis dan decak tawa. Alunan langkah yang sama pun tak kita alami setiap gulir detik yang berjalan. Langkah kiri yang tertatih kerap membuat terperosok dalam pitam yang memanas... Kau tahu kenapa terlihat singkat? Karna seperti burung yang selalu ingin berlari ke ujung pantai. Kita tak pernah mau terjaring dalam kurungan adat oleh siapapun. Dan bagaimanapun. Karna inilah bahagia kita, derap lari langkah kita. Singkat tapi mendalam. Mengikat rajutan asa yang dulu tak pernah merasa untuk harus menyatu. Terpecah saat tatap pertama. Air muka lugu yang mencirikan kita dulu. Tapi... meski hanya singkat, semua amat berarti. Jalanan ini, sudut ruang bumi ini, suara senyum hati kita menyatu. Tapi, mungkin senja kian dekat. Matahari akan ragu berpijar dalam tawa kita. Kicauan burung canda itu akan sirna. Semua akan berganti dengan pijaran yang terpisah. Kembali pada peradua...

Ketika Kita Terpisah

Sekarang kita dekat  kita saling menjaga perasaan masing-masing  tidak mau ada rasa kecewa dan curiga  tetapi bila kita berpisah nanti  apakah kita akan tetap dekat?  Kurasa tidak  aku yakin itu  aku berpikir, jika kita berpisah nanti  apakah kamu akan berbicara padaku seperti ini?  Ataukah kamu akan mengacuhkan aku?  Atau kita menjadi kikuk jika berhadapan satu sama lain?

XII

kangen masa-masa kelas X. rasanya dulu santai banget. sekarang udah kelas XII, persiapan otak untuk ujian nasional. sedih banget rasanya, bentar lagi udah enggak sekolah di sini lagi. tapi kalau di suruh milih mau lulus atau tetep di sini, ya jelas milih lulus lah... aku nggak bakal ngelupain masa-masa yang tersisa sekarang. aku harap semoga terjadi hal yang lebih berkesan lagi selama aku di sekolah ini :) jadi pengen nangis. berat deh nglepas mereka dari pandangan :'(