Langsung ke konten utama

Our Sun, Babe

Kami kembali berduka, setelah kehangatan yang kami rindukan selama ini terbentuk. Babe, teman kami yang paling kami banggakan dipanggil oleh yang maha kuasa setelah menahan rasa sakit selama 2 minggu.
Babe bagaikan sosok seorang ayah bagi kami. Selalu melerai pertengkaran yang terjadi di antara kami. Dia bagaikan matahari yang tak pernah tenggelam, selalu tersenyum setiap saat. Selalu menampakan wajah yang bahagia. Walau kadang tingkahnya terlalu sulit dimengerti. Tertawanya adalah bahagia bagi kami. Dia adalah pemilik tawa yang paling aneh di kelas kami. Lebih tepatnya tawa yang anarki. Tidak jarang ia tertawa dengan menendang kaki meja atau kursi dan terjatuh.
Babe, setiap orang yang mengenangnya pasti tersenyum. Di saat penguburannya pun ada beberapa orang yang terheran-heran dengan arwahnya. Temanku yang mempunyai indra keenam atau yang kepekaannya lebuh sensitif daripada orang lain melihat arwahnya bermain-main dengan ayam yang sedang mencari makan di daerah kuburan. Mungkin karena takut ayam itu melompati pagar kuburan. Lalu aku menanyakan bagaimana wajahnya saat itu. Temanku menjawab bahwa ia tertawa dengan tawa yang aneh, tawa yang biasanya.
Kami sering mengunjungi makamnya. Setiap ada masalah, kami bercerita di depan makamnya. Kami tahu mungkin dia tidak mendengar, tapi kami merasa nyaman. Kami tidak akan melupakannya. Kami tidak akan melupakan matahari kami.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Story About Us

Hanya sedikit jika dilihat. Cerita kita hanya berawal dari ikatan tahta yang tak terduga. Berjalan dengan gelimang tangis dan decak tawa. Alunan langkah yang sama pun tak kita alami setiap gulir detik yang berjalan. Langkah kiri yang tertatih kerap membuat terperosok dalam pitam yang memanas... Kau tahu kenapa terlihat singkat? Karna seperti burung yang selalu ingin berlari ke ujung pantai. Kita tak pernah mau terjaring dalam kurungan adat oleh siapapun. Dan bagaimanapun. Karna inilah bahagia kita, derap lari langkah kita. Singkat tapi mendalam. Mengikat rajutan asa yang dulu tak pernah merasa untuk harus menyatu. Terpecah saat tatap pertama. Air muka lugu yang mencirikan kita dulu. Tapi... meski hanya singkat, semua amat berarti. Jalanan ini, sudut ruang bumi ini, suara senyum hati kita menyatu. Tapi, mungkin senja kian dekat. Matahari akan ragu berpijar dalam tawa kita. Kicauan burung canda itu akan sirna. Semua akan berganti dengan pijaran yang terpisah. Kembali pada peradua...

Ketika Kita Terpisah

Sekarang kita dekat  kita saling menjaga perasaan masing-masing  tidak mau ada rasa kecewa dan curiga  tetapi bila kita berpisah nanti  apakah kita akan tetap dekat?  Kurasa tidak  aku yakin itu  aku berpikir, jika kita berpisah nanti  apakah kamu akan berbicara padaku seperti ini?  Ataukah kamu akan mengacuhkan aku?  Atau kita menjadi kikuk jika berhadapan satu sama lain?

XII

kangen masa-masa kelas X. rasanya dulu santai banget. sekarang udah kelas XII, persiapan otak untuk ujian nasional. sedih banget rasanya, bentar lagi udah enggak sekolah di sini lagi. tapi kalau di suruh milih mau lulus atau tetep di sini, ya jelas milih lulus lah... aku nggak bakal ngelupain masa-masa yang tersisa sekarang. aku harap semoga terjadi hal yang lebih berkesan lagi selama aku di sekolah ini :) jadi pengen nangis. berat deh nglepas mereka dari pandangan :'(