Sudah dua tahun sejak kejadian menyakitkan itu, tapi rasa sakit itu masih berbekas dan tidak mau hilang dari hati ini. Banyak memori datang dan pergi, baik itu senang maupun sedih, tapi kenapa perasaan yang menyesakkan ini selalu tinggal. Perasaan yang membuat diri lupa bagaimana rasa sakit itu, bagaimana cara tertawa dan tersenyum secara tulus. Bagaimana cara untuk mempercayai seseorang.
Hanya sedikit jika dilihat. Cerita kita hanya berawal dari ikatan tahta yang tak terduga. Berjalan dengan gelimang tangis dan decak tawa. Alunan langkah yang sama pun tak kita alami setiap gulir detik yang berjalan. Langkah kiri yang tertatih kerap membuat terperosok dalam pitam yang memanas... Kau tahu kenapa terlihat singkat? Karna seperti burung yang selalu ingin berlari ke ujung pantai. Kita tak pernah mau terjaring dalam kurungan adat oleh siapapun. Dan bagaimanapun. Karna inilah bahagia kita, derap lari langkah kita. Singkat tapi mendalam. Mengikat rajutan asa yang dulu tak pernah merasa untuk harus menyatu. Terpecah saat tatap pertama. Air muka lugu yang mencirikan kita dulu. Tapi... meski hanya singkat, semua amat berarti. Jalanan ini, sudut ruang bumi ini, suara senyum hati kita menyatu. Tapi, mungkin senja kian dekat. Matahari akan ragu berpijar dalam tawa kita. Kicauan burung canda itu akan sirna. Semua akan berganti dengan pijaran yang terpisah. Kembali pada peradua...
Komentar
Posting Komentar